Rabu, 20 Agustus 2014

Jeritan Hati ku


Mungkin mudah untuk kalian melihat hidupku dari kaca mata kalian, semua yang ku inginkan selalu terpenuhi apapun itu. Yaa mungkin itulah nyang selalu aku perlihatkan kepada orang-orang diluar sana, indahnya hidupku, bahagianya menjadi diriku. Tak ada yang mengerti aku selama ini semuanya hanya melihat bahagiaku, melihat aku kuat tanpa tahu betapa rapuhnya aku.
Bertahun-tahun ku menahan ini. Membiarkan rasa benci ini tumbuh besar kepada kedua orang tuaku yang ku anggap telah menghancurkan hidupku, membiarkanku dalam kesepian yang teramat sakit ku rasakan, disaat teman – teman seusiaku merasakan indahnya jalan – jalan dengan kedua orang tuanya, aku hanya bisa menatapnya dari jauh dan berharap suatu saat itu akan terjadi padaku.
Dari kecil ku telah merasa jauh dari kedua orang tuaku, ku merasa hidup sendirian didunia ini melakukan apapun yang aku suka tanpa pernah takut mengecewakan siapapun, tak pernah perduli akan malunya orang tua jika yang ku lakukan mendapat cemoohan orang. Yaa, kupikir merekapun tak pernah memikirkan aku, tak pernah sekalipun mereka menanyakan berapa nilaiku hari ini, apa yang terjadi pada hidupku hari ini, adakah hal bahagia yang aku dapatkan, mereka hanya perduli hidup mereka.
Ayah dengan istri barunya, Ibu dengan pekerjaannya, mungkin memang mudah disaat mereka berpisah karena saat itu tak sedikitpun aku mengerti akan indahnya kasih sayang, saat itu yang ku pikirkan hanyalah menangis untuk mendapatkan susu, meminta dot pada Ibu, hanya itu yang ku mengerti. Namun saat ini usiaku menginjak 17 tahun bagaimana mungkin aku tak mengerti indahnya kasih sayang yang tak pernah aku rasakan sejak usiaku 3 tahun, disaat Ayah dengan teganya menikah lagi dengan perempuan yang masih muda tanpa memperdulikan bagaimana caraku menjadi dewasa.
  1. Ibu
Namun kusadar Ibuku wanita yang tegar hingga aku sangat mencintainya seperti aku mencintai diriku sendiri, Dia berusaha agar aku mendapatkan cukup kasih sayang hingga aku tumbuh menjadi anak yang pintar dan selalu mendapat peringkat dikelasku, ku sadar beratnya perjuangan Ibu membesarkanku tanpa bantuan ayah, Ibu harus menjadi Ayah sekaligus Ibu untukku.
Ibu bekerja dari pagi sampai sore hanya agar aku bisa seperti anak – anak lain, aku ingat saat itu saat usiaku 6 tahun aku menangis minta dibelikan sepeda dan Ibu dengan kerja kerasnya berusaha membelikannya, Dia bekerja mati – matian hanya untuk membelikanku sepeda padahal saat itu harga sepeda hanya Rp 60.000, betapa besar kasih sayang Ibu saat itu padaku, setiap aku ulang tahun tak pernah sekalipun Ibu lupa membelikanku hadiah padahal aku tahu saat itu keuangan Ibu sangat sulit karena Ibu hanya bekerja sebagai pesuruh disalah satu Taman Kanak-Kanak namun tak pernah sekalipun Ibu melupakan ulang tahunku, saat nilaiku bagus Ibu selalu membelikanku mainan, walaupun tak seberapa namun aku senang.
Ibu tahu aku hobi membaca dan apabila TK akhir tahun banyak buku yang akan dibuang Ibu selalu mengambilkannya untukku. Aku kangen saat-saat itu. Aku rindu saat Ibu memelukku ketika aku tidur dan aku lepas pelukan itu karena aku merasa risih dengan pelukannya, saat aku ketakutan dan dia ada untuk menenangkanku, saat dia mengajariku membaca dan menghapal ayat – ayat pendek, aku rindu masa – masa itu. Seandainya aku sadar dulu betapa berharganya pelukan itu aku takkan pernah melepaskannya, aku ingin dipeluk Ibu selamanya, namun kini semuanya terlambat.
Saat teman – temanku menjauhiku Ibu ada untuk menghiburku, Ibu andai saja kau tahu betapa aku merindukan saat itu, saat hangatnya dekapanmu dipagi yang dingin, saat kita bersepeda menuju tempat kerjamu, saat engkau tanpa memperdulikan rasa malumu bekerja sebagai pesuruh padahal engkau adalah sarjana, saat itu perjuanganmu hanya demi aku, hanya untuk melihat aku besar dan menjadi anak yang pintar. Hanya untuk membelikanku susu agar aku tidak kurang gizi. Namun semuanya berakhir saat usiaku menginjak usia 8 tahun, saat seorang lelaki brengsek memasuki hidup Ibuku dan membuat Ibu melupakan kasih sayangnya padaku.
  1. Lelaki Brengsek
Awalnya sikapnya memang baik padaku, Dia membuatku merasakan Indahnya kasih sayang seorang Ayah. Namun itu hanya 3 tahun pertama, Dia sering mengajakku jalan – jalan layaknya seorang anak dengan ayahnya, Namun semuanya tidak berakhir manis saat aku mendengarnya menjelek – jelekkanku dihadapan Ibuku dan Ibu memarahiku. Aku tak pernah tahu apa salahku tapi Ibu memarahiku, sejak saat itu aku mulai membenci Ibuku. Aku mulai membenci Lelaki brengsek yang telah berani mengambil kasih sayang Ibu padaku. Aku membencinya, sangat membencinya, ingin aku lenyapkan dia dari dunia ini agar aku tak lagi melihatnya. Aku ingat saat aku membantah perintahnya dan dia mengancam untuk menamparku, saat pintu kamarku ditendangnya karena kemarahannya padaku.
Saat dia membuat Ibu mengambil pisau untuk membunuhku, aku ingat semuanya, masih terlihat jelas dibenakku, aku berjanji tak akan pernah lupa saat itu, pernah sekali gara – gara dia Ibu mencekikku dan aku hampir saja kehilangan napasku namun untungnya saat itu Ibu sadar dan membiarkanku masuk kekamarku. Aku tak tahu setan apa yang telah merasuki Ibuku hingga dengan teganya Dia mencekikku. Aku benci lelaki itu dia telah merebut semuanya dariku. Dia akan selalu ku benci, pernah sekali dia mempermalukanku ditengah teman – temanku, dia berteriak kepadaku dan membanting pintu dihadapan teman – temanku, sering dia mengancam untuk menamparku namun tak pernah aku hiraukan, AKU BENCI DIA SANGAT BENCI DIA !!!!!!!!!
Mengapa kamu selalu membentakku LELAKI BRENGSEK, aku tak pernah menyukaimu sejak kamu membuat Ibu melupakanku. Mengapa kamu selalu membentakku, aku tak pernah suka kamu bentak. Aku tak pernah inginkan kamu ada dalam hidupku.
Aku benci dia yang sering menjelek – jelekkan ayahku, aku tahu dia hanya melampiaskan amarahnya karena dia tidak bisa berkumpul dengan anak – anaknya dan tak pernah bisa membiayai hidup anak – anaknya. Yaa, karena jujur saja dia hanya pengangguran kelas berat. Dia berpikir sikapnya itu yang terbaik tapi ku rasa dia yang terburuk bahkan dari musuhku sekalipun. Dia memusuhi semua orang yang menjadi tempatku berbagi cerita, membuatku merasa tak enak. Dia menghancurkan segalanya, dia membuatku merasa seperti orang asing bahkan dengan Ibuku sendiri. Dan yang paling penting dia membuat Ibu membenciku.
  1. Ayah
Bagiku Ayah adalah orang yang paling berjasa menghancurkan hidupku. Yaa dia dengan teganya menikah lagi saat aku baru bisa mengucapkan kata ayah. Aku ingat saat itu aku sangat sangat mengingatnya saat ayah pergi dan Ibu mengejarnya hingga pintu depan. Aku tak mengerti kenapa aku mengingatnya. Tanpa memberiku pelukan ayah pergi dan tak pernah kembali lagi. Aku tak pernah mengerti kenapa ayah menikah lagi, apa dia tak pernah menyayangiku sehingga dengan mudahnya dia meninggalkanku dan Ibu.
Aku juga ingat saat itu bertepatan dengan pernikahan tanteku, Ibu mengajakkn pergi ke Rumah Kakek. Aku tak mengrti kenapa saat itu aku bahagia kupikir aku di ajak jalan – jalan. Memang benar aku diajak jalan – jalan, jalan – jalan untuk menghadiri pesta pernikahan ayahku sendiri dengan perempuan murahan itu. Ayah, apa salahku padamu mengapa kau tega meninggalkanku, tak pernahkah kau berpikir betapa sakitnya perasaanku ketika ku mulai mengerti arti dicintainya. Tak pernahkan kau mengerti berapa banyak air mata yang ku jatuhkan hanya untuk menangisimu. Tak pernahkah kamu tahu saat teman – temanku mengejekku dengan mengatakan aku tak punya Ayah. Dimana kamu saat aku terjatuh dan berharap seseorang yang mengangkatku. Dimana kamu saat pulang sekolah teman – temanku dijemput oleh ayah mereka, sedangkan aku, aku berjalan kaki kembali ke tempat kerja Ibu. Kenapa kamu membiarkanku berdiri sendiri saat aku jatuh ???. Dimana kamu saat aku menangis dan menginginkan pelukan seorang ayah.
Ayah, kuharap nanti kamu mengerti betapa sakitnya aku terlahir sebagai anakmu. Sebagai anak yang mungkin tak pernah kamu inginkan hingga kamu dengan teganya meninggalkanku. Aku ingat cerita Ibu, kata Ibu waktu aku bayi Kau pernah berniat membuangku kejendela, kenapa tak kamu lakukan saja, kenapa kamu membiarkanku hidup dengan siksaan seperti ini. Dengan rasa sakit yang tak pernah usai. Tak sadarkah kamu ayahku tercinta aku akan lebih menghargai jika kamu melakukannya karena aku takkan pernah merasa 18 tahun yang ku lalui sekarang. Mungkin saat ini aku sudah disurga seandainya dulu kamu benar – benar melakukannyanya. Aku berharap itu !!!!
Ayah, dimana kamu saat aku mendapat peringkat terbaik dan berharap kamu dtang untuk mengucapkan selamat dan memberiku hadiah. Aku ingin saat aku dimarahi Ibu aku bisa lari dan meminta perlindunganmu.. Namun dimana kamu saat itu ????????????? Saat semua teman – temanku dengan bangganya menceritakan tentang hebatnya Ayah mereka, aku bingung ayah hal apa yang harus aku ceritakan pada mereka karena aku tak pernah mengenal sosokmu secara sempurna. Dimataku kamu bukan seorang lelaki hebat , kamu penuh kegagalan namun kamu berhasil menghancurkan anakmu sendiri.
  1. Ayah dan Ibu
Ayah, Ibu mengapa kalian bersatu bila hanya akan menyakitiku, Ayah, Ibu aku tak pernah berharap dilahirkan ke Dunia ini. Aku tahu Ibu menyesal telah melahirkanku. Dan ayah tak pernah berharapp aku ada. Kata – katamu masih jelas ditelingaku Bu saat kamu mengatakan seharusnya kamu tak pernah mengharapkan aku bersamamu karena ayah telah menyakitimu, dan kata – kata Ayah saat dia mengatakan seharusnya dia tak pernah membiayaiku karena kesalahanmu Bu.
Aku mengerti Ayah, Ibu aku memang pantas disalahkan bahkan oleh kesalahan yang akupun tak tahu salahku apa dalam kejadian ini. Aku mengerti aku memang tak pernah diinginkan. Ayah, Ibu aku memang terbiasa berdiri sendiri.Aku terbiasa hanya menyimpan apa yang aku rasakan untuk diriku sendiri bukan untuk ku bagi kepada orang lain. Ayah Ibu kalian tahu saat aku pertama merasakan jatuh cinta, rasanya bahagia yaa Bu, Yah namun aku tak pernah bisa membagi ceritaku dengan kalian. Owh, iyaa aku juga pernah melihat temanku jalan – jalan dengan kedua orang tuanya. Aku ingin kita seperti itu Bu, Yah.
Tapi aku sadar bahkan kehadirankupun tak pernah kalian inginkan, aku pun tak ingin dilahirkan. Kadang aku iri saat teman – temanku bercerita tentang keakrabannya dengan salah satu dari orang tuanya, saat mereka berbagi cerita dengan kedua orang tuanya. Sedangkan aku, aku tak pernah berbagi cerita dengan Ibu apalagi Ayahku.
  1. Perempuan Murahan
Apa sih mau kamu ? Aku tak pernah mengenalmu tapi kenapa kamu punya andil dalam menghancurkan hidupku ? Kenapa kamu mengambil ayahku ? Aku tak pernah mengenalmu ? Apa salahku padamu ? Kenapa kamu tega menghancurkan hidupku ? Suatu saat aku akan memaksamu menjawabnya. Aku akan bahagia jika melihatmu menderita. Jika ku mampu aku akan membuat hidupmu menderita, kamu tahu kenapa aku sangat ingin menjadi dokter ?? karena aku akan membuatmu menderita, dan mati secara perlahan..
Kenapa aku tega kepada sesama manusia ?? Sadar diri aku tak pernah menganggapmu manusia, bagiku kamu lebih rendah dari hewan dan pantas dibasmi. Karena manusia tak mungkin tega menghancurkan hidup anak usia 3 tahun. Kamu akan sadar anak kecil yang hanya bisa menangis ketika kamu pelototi dulu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang akan membahayakan hidupmu. Aku akan menjadi apa yang ku inginkan untukmu PEREMPUAN MURAHAN. Untuk membalaskan 18 tahun sakit yang kurasakan karenamu. Semua penderitaan dihidupku karenamu, dan akan ku pastikan kamu akan merasakan sakit yang kurasakan bahkan lebih sakit lagi.
Owh. Yaa aku telah bertemu dengan anakmu yang paling kecil bersama ayahku dan tampaknya dia menyukaiku. Dia yang akan membalaskan dendamku padamu, semua yang kamu renggut tak akan pernah ku ambil kembali namun semua itu akan menjadi penyakit yang akan menggerogotimu. Aku masih berharap aku dapat melihat wajahmu, dapat mencium tanganmu sebagai tanda aku berbakti padamu sebelum aku mentertawakan kesengsaraanmu.
Kamu tahu 18 tahun aku menderita karenamu, kamu telah memancing amarah seekor harimau yang siap menerkammu dan akan memakanmu suatu saat. Aku bukan lagi gadis lemah PEREMPUAN MURAHAN, aku akan melawanmu dengan dendam yang telah tumbuh selama 15 tahun terakhir ini. Dendam yang telah ku pelihara dihatiku, tak pernah aku mencoba menghapusnya karena aku terlahir untuk ini.
Aku berjanji suatu hari kamu akan memohon pengampunan kepadaku atas apa yang kamu lakukan, aku takkan mati sebelum melihatmu menderita, aku akan bertahan untukmu WANITA MURAHAN. Untuk mengatakan inilah gadis kecil yang 15 tahun lalu kamu sakiti, inilah gadis yang 15 tahun lalu kamu renggut kebahagiannya dan inilah gadis kecil yang 15 tahun lalu kamu rebut ayahnya.:-)
  1. Dia
Yaa, inilah aku inilah hidupku yang kalian pikir penuh kebahagian tapi hidupku tak seperti yang kalian lihat. Hidupku yang penuh dendam, penuh kesedihan. Namun ada sedikit kebahagian ketika bersamanya. Hanya itu kebahagianku. Hanya saat itu ku melupakan semuanya. Saat dia menggenggam erat tanganku. Aku ingin dipeluknya sebagai tanda bahwa dia peduli akan penderitaan yang aku rasakan, Mungkin dia peduli mungkin juga tidak sama sekali. Tuhan aku butuh dia jangan biarkan dia pergi dariku. Aku sayang dia sama seperti ku menyayangi diriku sendiri.
Yaa, diapun kini tlah pergi, memecahkan kepingan kaca yang sudah hancur. Dia pergi membawa sejuta senyumku. Lebih sakit kurasakan ketika kepergiannya, lukanyapun belum sembuh sepenuhnya namun cinta yang begitu besar telah hilang dari hatiku untuknya. Kenapa kamu tega meninggalkanku sedangkan kamu tahu luka hatiku yang dahulu ? Mengapa tak mencoba bertahan untukku ? Tak tahukan kamu hujan turun disetiap pagi dan sore hariku sejak kepergianmu ? awan mendung datang disetiap cerahku ? Ku kira kamu akan bertahan selamanya untukku, namun kamu pun tak kuat menahannya dan memecahkan kaca itu ? Aku percaya sama kamu sehingga kuberikan kepingan kaca itu kepadamu, tapi kamu tega mengembalikannya pecahannya kepadaku dan membuatku tertusuk sangat dalam.
Tega kamu membiarkanku memohon untuk cinta yang tak pernah kamu balas. Membiarkanku berharap untuk kembalinya kamu kekehidupanku. Namun kini semuanya usai, kamu bagaikan layang – layang putus yang tak mungkin ku raih dan takkan ku berusaha meraihnya.:-)
  1. Malam yang dingin
Malam yang dingin, kenapa hanya kamu yang selalu ada untukku, untuk mendengarkan keluh kesahku. Mengapa kamu juga membawa kesepian untukku ? Malam, kamu adalah saksi sejarah hidupku yang penuh dengan duka, kamu melihat ketika semua kesedihan ini terjadi padaku, mengapa kau tak berusaha menolongku atau membawaku bersamamu. Mengapa kamu hanya membiarkan orang – orang pergi dariku. Malam, kamu masih yang terbaik dengan bulanmu yang selalu memancarkan cahaya untuk mendekapku. Dengan bintangmu yang seolah berkata aku tak pernah sendiri.
Malam, mengapa ku tak hidup denganmu saja. Mengapa kamu hanya menjadi saksi pedihnya hidupku ? Menjadi teman saat tak ada yang bisa ku ajak bicara ? Mengapa hanya kamu yang memelukku disepanjang hadirmu ? Malam, mungkin kamu menjawab pertanyaanku dengan suara burung hantu dan jangkrik yang ku dengar, namun semuanya tak pernah jelas.
Saat aku air mata ini jatuh, hanya kamu yang tak pernah meninggalkanku, kamu selalu hadir lagi dalam hidupku. Kamu yang tak pernah pergi meninggalkanku, kamu dan hanya kamu. Memang ku rasakan sepi ketika denganmu namun semuanya indah walau ku sendiri. Hanya saat ku bersamamu ku merasa tenang dan tak ada hujan yang membasahiku. Mungkin aku pun tak tertawa bahagia saat denganmu namun yang penting aku tak menangis ketika bersamamu.
Malam, andai saja kau tak ada mungkin hidup ini akan terasa hampa, sangat hampa. Walau kadang ku merasa kau benar untuk membiarkan pagi cepat datang dan merengkuhku untuk berjalan dan bahagia bersamanya. Namun kini, aku tak menginginkan pagi aku hanya ingin bersamamu. Aku hanya ingin memelukmu sepanjang hidupku. Ku tahu kamu yang selalu ada. Saat semua tak seperti yang ku harapkan, kamu yang sabar dan hadir untukku untuk berkata “tenang saja aku ada disini” saat ku merasa hanya sendiri didunia ini kamu kembali mengulang kata itu.
Yaa, hanya itu yang bisa kau katakan. Kamu tak pernah memjawab pertanyaanku. Namun ku tahu kamu ada dan kamu nyata. Saat aku menjadi egois dan pemarah. Kamu siap mendengarku marah – marah hanya kamu walau dalam kebisuan namun ku puas untukmu.:-)
  1. Kematian
Mengapa kamu tega membiarkanku tersiksa ? Mengapa kamu tak datang saja menjemputku ? Kamu tahu dalam setiap detik di usiaku hanya kamu yang aku harapkan. Aku hanya ingin bersamamu, aku selalu menunggumu, menunggumu untuk menjemputku dari kehidupan yang sulit ini. Disaat orang –orang berkata tidak siap tahukah kamu aku siap untuk bersamamu. Untuk membuka hari yang penuh dengan kebahagiaan bersamamu. Mungkin akan sakit untuk sesaat bersamamu tapi itu yang ku ingin. Itu yang ku harapkan.
Aku rela membayar mahal hanya untuk bersamamu, merelakan kebahagiaan yang mungkin akan aku dapatkan suatu saat nanti. Namun aku rela mellepas semua itu hanya untuk bersamamu. Hanya untuk menatap dunia dari sisi yang berbeda, dari mata yang lain. Aku ingin memandang tanpa bisa menyentuh. Mencintai tanpa bisa bersama di hadapanmu. Aku ingin melihat sejauh mana orang – orang merasa kehilanganku. Aku ingin menyesal tanpa bisa memperbaiki. Ingin membenci tanpa bisa memaki. Ingin dendam namun tak bisa menyakiti.
Aku ingin mulut ini tak bisa berkata – kata, hanya bisa memandang dan berpikir dari sisi dunia yangg lain. Aku hanya ingin gelap di hidupku. Ingin malam yang dingin dan selalu sepi. Ingin membuktikan apakah rasa dihadapanmu lebih sakit dari kesendirianku kini. Ku rasa tidak, rasa ini pasti lebih sakit karena harus bertahan dengan kepalsuan, kesedihan, kebohongan dan kehilangan satu persatu orang yang dulu aku cintai. Kini di 18 tahun usiaku tak ada satupun orang yang ku pentingkan selain diriku sendiri. Tak ada lagi cinta dan kasih sayang selain kasih sayangku kepada diriku sendiri. Hanya akan ada aku dalam hidupku. Aku dan aku yang akan menghias ruang kecil dihidupku dengan kesepian dan dendam yang membara.
Hanya akan ada aku yang berusaha hidup dengan semangat kebencian. Untuk menggapai sukses karena dendam. Karena aku dilahirkan untuk kematian. Otakku hanya ku gunakan untuk mencari jalan kebencian pada orang – orang yang telah menghancurkanku. Merusak indahnya masa kecilku, menghancurkan masa remajaku dan membunuh masa dewasaku. Aku pastikan seumur hidup kalian akan dipenuhi rasa bersalah karena telah menyengsarakanku. Menjatuhkan ribuan air mataku dan menyakiti setiap jengkal tubuhku dengan rasa perih yang tak pernah usai. Mengapa tak kamu bawa saja aku bersamamu untuk menyempurnakan hidupku bersamamu.
  1. Kenakalan
Mengapa hanya itu yang ada saat keluarga ku hancur, saat hidupku dihancurkan dengan mudahnya, mengapa aku selalu melawan ketika Ibu berkata jangan ketika Ayah melarangku, mengapa tak ada satu orangpun didunia ini yang aku patuhi, saat aku dengan beraninya menantang untuk dibunuh. Pertanyaan yang sangat mudah untuk aku jawab, mungkin semua orang yang bernasib sama sepertiku akan dengan mudah menjawab pertanyaan ini karena AKU INGIN DIPERHATIKAN jawaban yang simpel namun bagi kalian yang mengerti akan penuh dengan arti.
Alasan yang kuat mengapa aku hanya ingin melanggar peraturan, hanya ingin memntingkan diriku sendiri. Sadarkah Ayah Ibu selama 18 tahun kalian tak pernah memberikanku kasih sayang yang cukup, memberikan perhatian yang dalam, bahkan kalian tak pernah tahu apa yang aku lakukan didalam kamarku sendiri. Saat aku menyakiti diriku dengan tangisan yang aku buat – buat karena tak ada tempat untukku berbagi. Saat aku memaksakan diri tertawa dengan melakukan perbuatan konyol hanya untuk menarik perhatian.
Saat Guruku marah – marah dan aku malah bahagia karena berhasil menarik perhatian mereka. Aku tak tahu kenapa aku bahagia ketika di hukum, mereka tak pernah tahu betapa  aku menikmati hukuman yang mereka berikan karena bagiku hukuman itu adalah bentuk perhatian mereka kepadaku. Aku senang ketika teriakan itu mengarah kepadaku. Ketika semua yang aku lakukan diperhatikan oleh banyak orang. Hanya itu yang ku inginkan.
10. Hatiku
Ku ceritakan sedikit tentang hatiku saat ini, saat sang waktu mengajarkanku untuk sabar namun dendam ini tetap membara dalam hatiku. Saat ini ku merasa di duniaku hanya ada hidupku hanya ada jiwaku, 18 tahun ku rasa hidup dengan kekosongan namun semuanya berubah saat usiaku benar – benar menginjak dewasa saat aku memberanikan diri mencintai seorang lelaki. Hidupku terasa lengkap saat dia menatap tajam mataku, saat dia memelukku dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Aku rindu saat itu saat tatapan matanya menusuk masuk ke dalam hatiku. Saat kecupan manisnya mendarat tepat di keningku. Aku rindu saat itu saat dia mengatakan “Aku masih disini untukmu, untuk menjagamu, untuk memperhatikanmu”. Namun kini semuanya berbeda saat dia dengan mudahnya meninggalkanku, menekankan sebuah lubang yang mendalam dihatiku. Lubang yang membekas hingga kini dan ku rasa tak akan menutup seiring dengan waktu. Semuanya menjadi suram setelah dia menghilang dari hidupku, menggelapkan hati yang telah cerah karena kedatangannya, awan mendung kembali menyelimuti hatiku. Namun aku bahagia telah merasakan indahnya hidupku walau hanya sebentar saja.
Semua tentangnya masih jelas dibenakku hingga kini, hingga saat dia telah pergi dan tak mungkin kembali lagi. Kini yang tersisa hanya sepi dan suram di hidupku. Yang lain hanyalah lampu dihidupku bukan matahari yang dapat menerangi hidupku. Aku menginginkan matahariku kembali bukan lampu yang hanya sesaat menerangiku. Lampu tak pernah memberikan semangat hidupku aku perlu matahari yang mampu menerangi sisa hidupku.
Hatiku saat ini, aku merasa sangat kecewa kepada orang tuaku yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa pernah mengajarkanku apa arti hidup sebenarnya. Indahnya saat bersama – sama ayah dan ibu, tak pernah aku merasakannya. Di usia 18 tahunku saat ini Ibu melupakan ulang tahunku hanya tahun ini dia melakukannya. Bagiku itu cukup membuktikan cintanya telah hilang dari hatinya untukku. Ayah, Ibu, dan Kamu AKU BENCI KALIAN.
  1. Ini ceritaku cerita hidupku
Sejak aku kecil bukan kebahagian yang aku rasakan tapi kesedihan, aku tak pernah diberi kesempatan memilih apa yang aku inginkan dalam hidupku. Tak pernah bisa melakukan apa yang aku inginkan karena tak pernah ada perlindungan. Aku tak pernah ingin perlindungan karena ku yakin ku bisa menjaga diriku sendiri.
Semuanya berawal dari pertemuan orang tuaku dan berakhir dengan perkawinan, mungkin mereka telah merencanakan hidup yang indah setelah mereka menikah, namun semuanya salah ayah hanya menyiksa Ibu ketika mereka telah menikah, mungkin begitulah cerita yang selalu aku dengar dari Ibu aku tak pernah tahu kebenaran sebenarnya. Karena cerita yang aku dengar selalu berbeda ketika aku bersama Ayah dan Ibu hingga kini aku tak pernah percaya salah satu dari mereka. Menurut versiku mereka hanyalah pembohong yang tak pernah mau kalah antara satu dan yang lainnya. Kata ayah seharusnya Ibu berterimakasih karena ayahlah yang membiayai kuliahnya, menurut Ibu seharusnya ayah ingat jasa Ibu karena Ibu yang selalu menyediakannya makanan.
Entahlah yang mana yang benar aku tak pernah tahu. Hidupku memang penuh kebohongan aku terbiasa dibohongi sejak kecil. Aku benci hidupku. Aku ingat ketika aku diusir ayah saat aku mendatanginya saat dia bersama istri mudanya padahal saat itu hujan turun. Saat dia menyuruhku tak memanggilku ayah karena istri mudanya tak pernah menginginkan kehadiranku disisi ayah. Aku hanya bisa menangis dengan kelakuan ayah tanpa bisa melawan karena saat itu usiaku hanya 5 tahun. Sejak usiaku 3 tahun aku hanya hidup dengan Ibu dan aku sangat menyayanginya karena usahanya menghidupiku.
Namun semuanya berakhir saat Ibu menikah lagi dengan seorang lelaki brengsek yang sangat aku benci. Awalnya memang rasa benci itu tidak tumbuh kepadanya namun semakin lama sikapnya semakin membuatku muak. Kelakuannya tidak lebih dari seekor serigala berbulu domba, ketika Ibu masih bersamaku dia memperhatikanku dan menyayangiku namun ketika Ibu tiada pernah aku hampir ditamparnya.
Sejak saat itu aku sangatt membencinya.
Pernah hidupku sangat bahagia ketika seorang lelaki menyambutku dengan penuh cinta. Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri untuk mencintai seseorang selain diriku sendiri. Entah mengapa selama ini aku selalu bahagia ketika aku bisa menyakiti hati seorang lelaki namun kali ini ku rasa berbeda karena hatiku membuka dengan mudahnya. Dia datang dengan seribu cinta untukku, dia mendengarkan ketika aku berbagi, dia menghibur ketika aku menangis, Yaa saat itu dia segalanya bagiku. Hingga sebuah keegoisanku membuatnya pergi dariku dan tak pernah kembali lagi.
Kini, di 18 tahun usiaku aku tak ingin lagi merasakan cinta. Aku hanya ingin diriku sendiri. Aku akan bahagia tanpa ada yang menggangguku. Aku akan bermain dengan hidupku, dengan lingkaran kecil yang telah aku buat dihidupku. Dengan 3 elemen indah yang ku yakin bisa membuatku senang. Aku tak ingin lagi dimiliki, aku bahagia dengan kesendirianku ini. Aku tak ingin diganggu lagi. Aku akan hidup dengan bola indah yang aku gulirkan untukku sendiri, yang aku mainkan sendiri. Aku takkan lagi mencoba mengerti orang lain selain diriku. Aku akan buat dunia impianku sendiri. Dunia yang penuh dendam, kebencian dan cinta, yaa cinta tapi hanya untukku saja. Dunia yang akan membakar siapapun yang masuk kedalamnya. Dunia yang penuh perhatian, penuh kasih sayang, penuh cinta namun akan penuh kebencian dan dendam pada akhirnya. Its really me, this not compesition but this me what in fact.:-) Maafkan aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar