Mungkin
mudah untuk kalian melihat hidupku dari kaca mata kalian, semua yang ku
inginkan selalu terpenuhi apapun itu. Yaa mungkin itulah nyang selalu aku
perlihatkan kepada orang-orang diluar sana, indahnya hidupku, bahagianya
menjadi diriku. Tak ada yang mengerti aku selama ini semuanya hanya melihat
bahagiaku, melihat aku kuat tanpa tahu betapa rapuhnya aku.
Bertahun-tahun
ku menahan ini. Membiarkan rasa benci ini tumbuh besar kepada kedua orang tuaku
yang ku anggap telah menghancurkan hidupku, membiarkanku dalam kesepian yang
teramat sakit ku rasakan, disaat teman – teman seusiaku merasakan indahnya
jalan – jalan dengan kedua orang tuanya, aku hanya bisa menatapnya dari jauh
dan berharap suatu saat itu akan terjadi padaku.
Dari
kecil ku telah merasa jauh dari kedua orang tuaku, ku merasa hidup sendirian
didunia ini melakukan apapun yang aku suka tanpa pernah takut mengecewakan
siapapun, tak pernah perduli akan malunya orang tua jika yang ku lakukan
mendapat cemoohan orang. Yaa, kupikir merekapun tak pernah memikirkan aku, tak
pernah sekalipun mereka menanyakan berapa nilaiku hari ini, apa yang terjadi
pada hidupku hari ini, adakah hal bahagia yang aku dapatkan, mereka hanya
perduli hidup mereka.
Ayah
dengan istri barunya, Ibu dengan pekerjaannya, mungkin memang mudah disaat
mereka berpisah karena saat itu tak sedikitpun aku mengerti akan indahnya kasih
sayang, saat itu yang ku pikirkan hanyalah menangis untuk mendapatkan susu,
meminta dot pada Ibu, hanya itu yang ku mengerti. Namun saat ini usiaku
menginjak 17 tahun bagaimana mungkin aku tak mengerti indahnya kasih sayang
yang tak pernah aku rasakan sejak usiaku 3 tahun, disaat Ayah dengan teganya
menikah lagi dengan perempuan yang masih muda tanpa memperdulikan bagaimana
caraku menjadi dewasa.
- Ibu
Namun
kusadar Ibuku wanita yang tegar hingga aku sangat mencintainya seperti aku
mencintai diriku sendiri, Dia berusaha agar aku mendapatkan cukup kasih sayang
hingga aku tumbuh menjadi anak yang pintar dan selalu mendapat peringkat dikelasku,
ku sadar beratnya perjuangan Ibu membesarkanku tanpa bantuan ayah, Ibu harus
menjadi Ayah sekaligus Ibu untukku.
Ibu
bekerja dari pagi sampai sore hanya agar aku bisa seperti anak – anak lain, aku
ingat saat itu saat usiaku 6 tahun aku menangis minta dibelikan sepeda dan Ibu
dengan kerja kerasnya berusaha membelikannya, Dia bekerja mati – matian hanya
untuk membelikanku sepeda padahal saat itu harga sepeda hanya Rp 60.000, betapa
besar kasih sayang Ibu saat itu padaku, setiap aku ulang tahun tak pernah
sekalipun Ibu lupa membelikanku hadiah padahal aku tahu saat itu keuangan Ibu
sangat sulit karena Ibu hanya bekerja sebagai pesuruh disalah satu Taman
Kanak-Kanak namun tak pernah sekalipun Ibu melupakan ulang tahunku, saat
nilaiku bagus Ibu selalu membelikanku mainan, walaupun tak seberapa namun aku
senang.
Ibu
tahu aku hobi membaca dan apabila TK akhir tahun banyak buku yang akan dibuang
Ibu selalu mengambilkannya untukku. Aku kangen saat-saat itu. Aku rindu saat
Ibu memelukku ketika aku tidur dan aku lepas pelukan itu karena aku merasa
risih dengan pelukannya, saat aku ketakutan dan dia ada untuk menenangkanku,
saat dia mengajariku membaca dan menghapal ayat – ayat pendek, aku rindu masa –
masa itu. Seandainya aku sadar dulu betapa berharganya pelukan itu aku takkan
pernah melepaskannya, aku ingin dipeluk Ibu selamanya, namun kini semuanya
terlambat.
Saat
teman – temanku menjauhiku Ibu ada untuk menghiburku, Ibu andai saja kau tahu
betapa aku merindukan saat itu, saat hangatnya dekapanmu dipagi yang dingin,
saat kita bersepeda menuju tempat kerjamu, saat engkau tanpa memperdulikan rasa
malumu bekerja sebagai pesuruh padahal engkau adalah sarjana, saat itu
perjuanganmu hanya demi aku, hanya untuk melihat aku besar dan menjadi anak
yang pintar. Hanya untuk membelikanku susu agar aku tidak kurang gizi. Namun
semuanya berakhir saat usiaku menginjak usia 8 tahun, saat seorang lelaki
brengsek memasuki hidup Ibuku dan membuat Ibu melupakan kasih sayangnya padaku.
- Lelaki Brengsek
Awalnya
sikapnya memang baik padaku, Dia membuatku merasakan Indahnya kasih sayang
seorang Ayah. Namun itu hanya 3 tahun pertama, Dia sering mengajakku jalan –
jalan layaknya seorang anak dengan ayahnya, Namun semuanya tidak berakhir manis
saat aku mendengarnya menjelek – jelekkanku dihadapan Ibuku dan Ibu memarahiku.
Aku tak pernah tahu apa salahku tapi Ibu memarahiku, sejak saat itu aku mulai
membenci Ibuku. Aku mulai membenci Lelaki brengsek yang telah berani mengambil
kasih sayang Ibu padaku. Aku membencinya, sangat membencinya, ingin aku
lenyapkan dia dari dunia ini agar aku tak lagi melihatnya. Aku ingat saat aku
membantah perintahnya dan dia mengancam untuk menamparku, saat pintu kamarku
ditendangnya karena kemarahannya padaku.
Saat
dia membuat Ibu mengambil pisau untuk membunuhku, aku ingat semuanya, masih
terlihat jelas dibenakku, aku berjanji tak akan pernah lupa saat itu, pernah
sekali gara – gara dia Ibu mencekikku dan aku hampir saja kehilangan napasku
namun untungnya saat itu Ibu sadar dan membiarkanku masuk kekamarku. Aku tak tahu
setan apa yang telah merasuki Ibuku hingga dengan teganya Dia mencekikku. Aku
benci lelaki itu dia telah merebut semuanya dariku. Dia akan selalu ku benci,
pernah sekali dia mempermalukanku ditengah teman – temanku, dia berteriak
kepadaku dan membanting pintu dihadapan teman – temanku, sering dia mengancam
untuk menamparku namun tak pernah aku hiraukan, AKU BENCI DIA SANGAT BENCI DIA
!!!!!!!!!
Mengapa
kamu selalu membentakku LELAKI BRENGSEK, aku tak pernah menyukaimu sejak kamu
membuat Ibu melupakanku. Mengapa kamu selalu membentakku, aku tak pernah suka
kamu bentak. Aku tak pernah inginkan kamu ada dalam hidupku.
Aku
benci dia yang sering menjelek – jelekkan ayahku, aku tahu dia hanya
melampiaskan amarahnya karena dia tidak bisa berkumpul dengan anak – anaknya
dan tak pernah bisa membiayai hidup anak – anaknya. Yaa, karena jujur saja dia
hanya pengangguran kelas berat. Dia berpikir sikapnya itu yang terbaik tapi ku
rasa dia yang terburuk bahkan dari musuhku sekalipun. Dia memusuhi semua orang
yang menjadi tempatku berbagi cerita, membuatku merasa tak enak. Dia
menghancurkan segalanya, dia membuatku merasa seperti orang asing bahkan dengan
Ibuku sendiri. Dan yang paling penting dia membuat Ibu membenciku.
- Ayah
Bagiku
Ayah adalah orang yang paling berjasa menghancurkan hidupku. Yaa dia dengan
teganya menikah lagi saat aku baru bisa mengucapkan kata ayah. Aku ingat saat
itu aku sangat sangat mengingatnya saat ayah pergi dan Ibu mengejarnya hingga
pintu depan. Aku tak mengerti kenapa aku mengingatnya. Tanpa memberiku pelukan
ayah pergi dan tak pernah kembali lagi. Aku tak pernah mengerti kenapa ayah
menikah lagi, apa dia tak pernah menyayangiku sehingga dengan mudahnya dia
meninggalkanku dan Ibu.
Aku
juga ingat saat itu bertepatan dengan pernikahan tanteku, Ibu mengajakkn pergi
ke Rumah Kakek. Aku tak mengrti kenapa saat itu aku bahagia kupikir aku di ajak
jalan – jalan. Memang benar aku diajak jalan – jalan, jalan – jalan untuk
menghadiri pesta pernikahan ayahku sendiri dengan perempuan murahan itu. Ayah,
apa salahku padamu mengapa kau tega meninggalkanku, tak pernahkah kau berpikir
betapa sakitnya perasaanku ketika ku mulai mengerti arti dicintainya. Tak
pernahkan kau mengerti berapa banyak air mata yang ku jatuhkan hanya untuk
menangisimu. Tak pernahkah kamu tahu saat teman – temanku mengejekku dengan
mengatakan aku tak punya Ayah. Dimana kamu saat aku terjatuh dan berharap
seseorang yang mengangkatku. Dimana kamu saat pulang sekolah teman – temanku
dijemput oleh ayah mereka, sedangkan aku, aku berjalan kaki kembali ke tempat
kerja Ibu. Kenapa kamu membiarkanku berdiri sendiri saat aku jatuh ???. Dimana
kamu saat aku menangis dan menginginkan pelukan seorang ayah.
Ayah,
kuharap nanti kamu mengerti betapa sakitnya aku terlahir sebagai anakmu.
Sebagai anak yang mungkin tak pernah kamu inginkan hingga kamu dengan teganya
meninggalkanku. Aku ingat cerita Ibu, kata Ibu waktu aku bayi Kau pernah
berniat membuangku kejendela, kenapa tak kamu lakukan saja, kenapa kamu
membiarkanku hidup dengan siksaan seperti ini. Dengan rasa sakit yang tak
pernah usai. Tak sadarkah kamu ayahku tercinta aku akan lebih menghargai jika
kamu melakukannya karena aku takkan pernah merasa 18 tahun yang ku lalui
sekarang. Mungkin saat ini aku sudah disurga seandainya dulu kamu benar – benar
melakukannyanya. Aku berharap itu !!!!
Ayah,
dimana kamu saat aku mendapat peringkat terbaik dan berharap kamu dtang untuk
mengucapkan selamat dan memberiku hadiah. Aku ingin saat aku dimarahi Ibu aku
bisa lari dan meminta perlindunganmu.. Namun dimana kamu saat itu ?????????????
Saat semua teman – temanku dengan bangganya menceritakan tentang hebatnya Ayah
mereka, aku bingung ayah hal apa yang harus aku ceritakan pada mereka karena
aku tak pernah mengenal sosokmu secara sempurna. Dimataku kamu bukan seorang lelaki
hebat , kamu penuh kegagalan namun kamu berhasil menghancurkan anakmu sendiri.
- Ayah dan Ibu
Ayah,
Ibu mengapa kalian bersatu bila hanya akan menyakitiku, Ayah, Ibu aku tak
pernah berharap dilahirkan ke Dunia ini. Aku tahu Ibu menyesal telah melahirkanku.
Dan ayah tak pernah berharapp aku ada. Kata – katamu masih jelas ditelingaku Bu
saat kamu mengatakan seharusnya kamu tak pernah mengharapkan aku bersamamu
karena ayah telah menyakitimu, dan kata – kata Ayah saat dia mengatakan
seharusnya dia tak pernah membiayaiku karena kesalahanmu Bu.
Aku
mengerti Ayah, Ibu aku memang pantas disalahkan bahkan oleh kesalahan yang
akupun tak tahu salahku apa dalam kejadian ini. Aku mengerti aku memang tak
pernah diinginkan. Ayah, Ibu aku memang terbiasa berdiri sendiri.Aku terbiasa
hanya menyimpan apa yang aku rasakan untuk diriku sendiri bukan untuk ku bagi
kepada orang lain. Ayah Ibu kalian tahu saat aku pertama merasakan jatuh cinta,
rasanya bahagia yaa Bu, Yah namun aku tak pernah bisa membagi ceritaku dengan
kalian. Owh, iyaa aku juga pernah melihat temanku jalan – jalan dengan kedua
orang tuanya. Aku ingin kita seperti itu Bu, Yah.
Tapi
aku sadar bahkan kehadirankupun tak pernah kalian inginkan, aku pun tak ingin
dilahirkan. Kadang aku iri saat teman – temanku bercerita tentang keakrabannya
dengan salah satu dari orang tuanya, saat mereka berbagi cerita dengan kedua
orang tuanya. Sedangkan aku, aku tak pernah berbagi cerita dengan Ibu apalagi
Ayahku.
- Perempuan Murahan
Apa
sih mau kamu ? Aku tak pernah mengenalmu tapi kenapa kamu punya andil dalam
menghancurkan hidupku ? Kenapa kamu mengambil ayahku ? Aku tak pernah
mengenalmu ? Apa salahku padamu ? Kenapa kamu tega menghancurkan hidupku ?
Suatu saat aku akan memaksamu menjawabnya. Aku akan bahagia jika melihatmu
menderita. Jika ku mampu aku akan membuat hidupmu menderita, kamu tahu kenapa
aku sangat ingin menjadi dokter ?? karena aku akan membuatmu menderita, dan
mati secara perlahan..
Kenapa
aku tega kepada sesama manusia ?? Sadar diri aku tak pernah menganggapmu
manusia, bagiku kamu lebih rendah dari hewan dan pantas dibasmi. Karena manusia
tak mungkin tega menghancurkan hidup anak usia 3 tahun. Kamu akan sadar anak
kecil yang hanya bisa menangis ketika kamu pelototi dulu telah tumbuh menjadi
seorang gadis yang akan membahayakan hidupmu. Aku akan menjadi apa yang ku
inginkan untukmu PEREMPUAN MURAHAN. Untuk membalaskan 18 tahun sakit yang
kurasakan karenamu. Semua penderitaan dihidupku karenamu, dan akan ku pastikan
kamu akan merasakan sakit yang kurasakan bahkan lebih sakit lagi.
Owh.
Yaa aku telah bertemu dengan anakmu yang paling kecil bersama ayahku dan
tampaknya dia menyukaiku. Dia yang akan membalaskan dendamku padamu, semua yang
kamu renggut tak akan pernah ku ambil kembali namun semua itu akan menjadi penyakit
yang akan menggerogotimu. Aku masih berharap aku dapat melihat wajahmu, dapat
mencium tanganmu sebagai tanda aku berbakti padamu sebelum aku mentertawakan
kesengsaraanmu.
Kamu
tahu 18 tahun aku menderita karenamu, kamu telah memancing amarah seekor
harimau yang siap menerkammu dan akan memakanmu suatu saat. Aku bukan lagi
gadis lemah PEREMPUAN MURAHAN, aku akan melawanmu dengan dendam yang telah
tumbuh selama 15 tahun terakhir ini. Dendam yang telah ku pelihara dihatiku,
tak pernah aku mencoba menghapusnya karena aku terlahir untuk ini.
Aku
berjanji suatu hari kamu akan memohon pengampunan kepadaku atas apa yang kamu
lakukan, aku takkan mati sebelum melihatmu menderita, aku akan bertahan untukmu
WANITA MURAHAN. Untuk mengatakan inilah gadis kecil yang 15 tahun lalu kamu
sakiti, inilah gadis yang 15 tahun lalu kamu renggut kebahagiannya dan inilah
gadis kecil yang 15 tahun lalu kamu rebut ayahnya.:-)
- Dia
Yaa,
inilah aku inilah hidupku yang kalian pikir penuh kebahagian tapi hidupku tak
seperti yang kalian lihat. Hidupku yang penuh dendam, penuh kesedihan. Namun
ada sedikit kebahagian ketika bersamanya. Hanya itu kebahagianku. Hanya saat
itu ku melupakan semuanya. Saat dia menggenggam erat tanganku. Aku ingin
dipeluknya sebagai tanda bahwa dia peduli akan penderitaan yang aku rasakan,
Mungkin dia peduli mungkin juga tidak sama sekali. Tuhan aku butuh dia jangan
biarkan dia pergi dariku. Aku sayang dia sama seperti ku menyayangi diriku
sendiri.
Yaa,
diapun kini tlah pergi, memecahkan kepingan kaca yang sudah hancur. Dia pergi
membawa sejuta senyumku. Lebih sakit kurasakan ketika kepergiannya, lukanyapun
belum sembuh sepenuhnya namun cinta yang begitu besar telah hilang dari hatiku
untuknya. Kenapa kamu tega meninggalkanku sedangkan kamu tahu luka hatiku yang
dahulu ? Mengapa tak mencoba bertahan untukku ? Tak tahukan kamu hujan turun
disetiap pagi dan sore hariku sejak kepergianmu ? awan mendung datang disetiap
cerahku ? Ku kira kamu akan bertahan selamanya untukku, namun kamu pun tak kuat
menahannya dan memecahkan kaca itu ? Aku percaya sama kamu sehingga kuberikan
kepingan kaca itu kepadamu, tapi kamu tega mengembalikannya pecahannya kepadaku
dan membuatku tertusuk sangat dalam.
Tega
kamu membiarkanku memohon untuk cinta yang tak pernah kamu balas. Membiarkanku
berharap untuk kembalinya kamu kekehidupanku. Namun kini semuanya usai, kamu
bagaikan layang – layang putus yang tak mungkin ku raih dan takkan ku berusaha
meraihnya.:-)
- Malam yang dingin
Malam
yang dingin, kenapa hanya kamu yang selalu ada untukku, untuk mendengarkan
keluh kesahku. Mengapa kamu juga membawa kesepian untukku ? Malam, kamu adalah
saksi sejarah hidupku yang penuh dengan duka, kamu melihat ketika semua
kesedihan ini terjadi padaku, mengapa kau tak berusaha menolongku atau
membawaku bersamamu. Mengapa kamu hanya membiarkan orang – orang pergi dariku.
Malam, kamu masih yang terbaik dengan bulanmu yang selalu memancarkan cahaya
untuk mendekapku. Dengan bintangmu yang seolah berkata aku tak pernah sendiri.
Malam,
mengapa ku tak hidup denganmu saja. Mengapa kamu hanya menjadi saksi pedihnya
hidupku ? Menjadi teman saat tak ada yang bisa ku ajak bicara ? Mengapa hanya
kamu yang memelukku disepanjang hadirmu ? Malam, mungkin kamu menjawab
pertanyaanku dengan suara burung hantu dan jangkrik yang ku dengar, namun
semuanya tak pernah jelas.
Saat
aku air mata ini jatuh, hanya kamu yang tak pernah meninggalkanku, kamu selalu
hadir lagi dalam hidupku. Kamu yang tak pernah pergi meninggalkanku, kamu dan
hanya kamu. Memang ku rasakan sepi ketika denganmu namun semuanya indah walau
ku sendiri. Hanya saat ku bersamamu ku merasa tenang dan tak ada hujan yang
membasahiku. Mungkin aku pun tak tertawa bahagia saat denganmu namun yang
penting aku tak menangis ketika bersamamu.
Malam,
andai saja kau tak ada mungkin hidup ini akan terasa hampa, sangat hampa. Walau
kadang ku merasa kau benar untuk membiarkan pagi cepat datang dan merengkuhku
untuk berjalan dan bahagia bersamanya. Namun kini, aku tak menginginkan pagi
aku hanya ingin bersamamu. Aku hanya ingin memelukmu sepanjang hidupku. Ku tahu
kamu yang selalu ada. Saat semua tak seperti yang ku harapkan, kamu yang sabar
dan hadir untukku untuk berkata “tenang saja aku ada disini” saat ku merasa
hanya sendiri didunia ini kamu kembali mengulang kata itu.
Yaa,
hanya itu yang bisa kau katakan. Kamu tak pernah memjawab pertanyaanku. Namun
ku tahu kamu ada dan kamu nyata. Saat aku menjadi egois dan pemarah. Kamu siap
mendengarku marah – marah hanya kamu walau dalam kebisuan namun ku puas
untukmu.:-)
- Kematian
Mengapa
kamu tega membiarkanku tersiksa ? Mengapa kamu tak datang saja menjemputku ?
Kamu tahu dalam setiap detik di usiaku hanya kamu yang aku harapkan. Aku hanya
ingin bersamamu, aku selalu menunggumu, menunggumu untuk menjemputku dari
kehidupan yang sulit ini. Disaat orang –orang berkata tidak siap tahukah kamu
aku siap untuk bersamamu. Untuk membuka hari yang penuh dengan kebahagiaan
bersamamu. Mungkin akan sakit untuk sesaat bersamamu tapi itu yang ku ingin.
Itu yang ku harapkan.
Aku
rela membayar mahal hanya untuk bersamamu, merelakan kebahagiaan yang mungkin
akan aku dapatkan suatu saat nanti. Namun aku rela mellepas semua itu hanya
untuk bersamamu. Hanya untuk menatap dunia dari sisi yang berbeda, dari mata
yang lain. Aku ingin memandang tanpa bisa menyentuh. Mencintai tanpa bisa
bersama di hadapanmu. Aku ingin melihat sejauh mana orang – orang merasa
kehilanganku. Aku ingin menyesal tanpa bisa memperbaiki. Ingin membenci tanpa
bisa memaki. Ingin dendam namun tak bisa menyakiti.
Aku
ingin mulut ini tak bisa berkata – kata, hanya bisa memandang dan berpikir dari
sisi dunia yangg lain. Aku hanya ingin gelap di hidupku. Ingin malam yang
dingin dan selalu sepi. Ingin membuktikan apakah rasa dihadapanmu lebih sakit
dari kesendirianku kini. Ku rasa tidak, rasa ini pasti lebih sakit karena harus
bertahan dengan kepalsuan, kesedihan, kebohongan dan kehilangan satu persatu
orang yang dulu aku cintai. Kini di 18 tahun usiaku tak ada satupun orang yang
ku pentingkan selain diriku sendiri. Tak ada lagi cinta dan kasih sayang selain
kasih sayangku kepada diriku sendiri. Hanya akan ada aku dalam hidupku. Aku dan
aku yang akan menghias ruang kecil dihidupku dengan kesepian dan dendam yang
membara.
Hanya
akan ada aku yang berusaha hidup dengan semangat kebencian. Untuk menggapai sukses
karena dendam. Karena aku dilahirkan untuk kematian. Otakku hanya ku gunakan
untuk mencari jalan kebencian pada orang – orang yang telah menghancurkanku.
Merusak indahnya masa kecilku, menghancurkan masa remajaku dan membunuh masa
dewasaku. Aku pastikan seumur hidup kalian akan dipenuhi rasa bersalah karena
telah menyengsarakanku. Menjatuhkan ribuan air mataku dan menyakiti setiap
jengkal tubuhku dengan rasa perih yang tak pernah usai. Mengapa tak kamu bawa
saja aku bersamamu untuk menyempurnakan hidupku bersamamu.
- Kenakalan
Mengapa
hanya itu yang ada saat keluarga ku hancur, saat hidupku dihancurkan dengan
mudahnya, mengapa aku selalu melawan ketika Ibu berkata jangan ketika Ayah
melarangku, mengapa tak ada satu orangpun didunia ini yang aku patuhi, saat aku
dengan beraninya menantang untuk dibunuh. Pertanyaan yang sangat mudah untuk
aku jawab, mungkin semua orang yang bernasib sama sepertiku akan dengan mudah
menjawab pertanyaan ini karena AKU INGIN DIPERHATIKAN jawaban yang simpel namun
bagi kalian yang mengerti akan penuh dengan arti.
Alasan
yang kuat mengapa aku hanya ingin melanggar peraturan, hanya ingin memntingkan
diriku sendiri. Sadarkah Ayah Ibu selama 18 tahun kalian tak pernah
memberikanku kasih sayang yang cukup, memberikan perhatian yang dalam, bahkan
kalian tak pernah tahu apa yang aku lakukan didalam kamarku sendiri. Saat aku
menyakiti diriku dengan tangisan yang aku buat – buat karena tak ada tempat
untukku berbagi. Saat aku memaksakan diri tertawa dengan melakukan perbuatan
konyol hanya untuk menarik perhatian.
Saat
Guruku marah – marah dan aku malah bahagia karena berhasil menarik perhatian
mereka. Aku tak tahu kenapa aku bahagia ketika di hukum, mereka tak pernah tahu
betapa aku menikmati hukuman yang mereka berikan karena bagiku hukuman
itu adalah bentuk perhatian mereka kepadaku. Aku senang ketika teriakan itu
mengarah kepadaku. Ketika semua yang aku lakukan diperhatikan oleh banyak
orang. Hanya itu yang ku inginkan.
10.
Hatiku
Ku
ceritakan sedikit tentang hatiku saat ini, saat sang waktu mengajarkanku untuk
sabar namun dendam ini tetap membara dalam hatiku. Saat ini ku merasa di
duniaku hanya ada hidupku hanya ada jiwaku, 18 tahun ku rasa hidup dengan
kekosongan namun semuanya berubah saat usiaku benar – benar menginjak dewasa
saat aku memberanikan diri mencintai seorang lelaki. Hidupku terasa lengkap
saat dia menatap tajam mataku, saat dia memelukku dengan penuh cinta dan kasih
sayang.
Aku
rindu saat itu saat tatapan matanya menusuk masuk ke dalam hatiku. Saat kecupan
manisnya mendarat tepat di keningku. Aku rindu saat itu saat dia mengatakan
“Aku masih disini untukmu, untuk menjagamu, untuk memperhatikanmu”. Namun kini
semuanya berbeda saat dia dengan mudahnya meninggalkanku, menekankan sebuah
lubang yang mendalam dihatiku. Lubang yang membekas hingga kini dan ku rasa tak
akan menutup seiring dengan waktu. Semuanya menjadi suram setelah dia
menghilang dari hidupku, menggelapkan hati yang telah cerah karena
kedatangannya, awan mendung kembali menyelimuti hatiku. Namun aku bahagia telah
merasakan indahnya hidupku walau hanya sebentar saja.
Semua
tentangnya masih jelas dibenakku hingga kini, hingga saat dia telah pergi dan
tak mungkin kembali lagi. Kini yang tersisa hanya sepi dan suram di hidupku.
Yang lain hanyalah lampu dihidupku bukan matahari yang dapat menerangi hidupku.
Aku menginginkan matahariku kembali bukan lampu yang hanya sesaat menerangiku.
Lampu tak pernah memberikan semangat hidupku aku perlu matahari yang mampu
menerangi sisa hidupku.
Hatiku
saat ini, aku merasa sangat kecewa kepada orang tuaku yang hanya mementingkan
dirinya sendiri tanpa pernah mengajarkanku apa arti hidup sebenarnya. Indahnya
saat bersama – sama ayah dan ibu, tak pernah aku merasakannya. Di usia 18
tahunku saat ini Ibu melupakan ulang tahunku hanya tahun ini dia melakukannya.
Bagiku itu cukup membuktikan cintanya telah hilang dari hatinya untukku. Ayah,
Ibu, dan Kamu AKU BENCI KALIAN.
- Ini ceritaku cerita hidupku
Sejak
aku kecil bukan kebahagian yang aku rasakan tapi kesedihan, aku tak pernah
diberi kesempatan memilih apa yang aku inginkan dalam hidupku. Tak pernah bisa
melakukan apa yang aku inginkan karena tak pernah ada perlindungan. Aku tak
pernah ingin perlindungan karena ku yakin ku bisa menjaga diriku sendiri.
Semuanya
berawal dari pertemuan orang tuaku dan berakhir dengan perkawinan, mungkin
mereka telah merencanakan hidup yang indah setelah mereka menikah, namun
semuanya salah ayah hanya menyiksa Ibu ketika mereka telah menikah, mungkin
begitulah cerita yang selalu aku dengar dari Ibu aku tak pernah tahu kebenaran
sebenarnya. Karena cerita yang aku dengar selalu berbeda ketika aku bersama
Ayah dan Ibu hingga kini aku tak pernah percaya salah satu dari mereka. Menurut
versiku mereka hanyalah pembohong yang tak pernah mau kalah antara satu dan
yang lainnya. Kata ayah seharusnya Ibu berterimakasih karena ayahlah yang
membiayai kuliahnya, menurut Ibu seharusnya ayah ingat jasa Ibu karena Ibu yang
selalu menyediakannya makanan.
Entahlah
yang mana yang benar aku tak pernah tahu. Hidupku memang penuh kebohongan aku
terbiasa dibohongi sejak kecil. Aku benci hidupku. Aku ingat ketika aku diusir
ayah saat aku mendatanginya saat dia bersama istri mudanya padahal saat itu
hujan turun. Saat dia menyuruhku tak memanggilku ayah karena istri mudanya tak
pernah menginginkan kehadiranku disisi ayah. Aku hanya bisa menangis dengan
kelakuan ayah tanpa bisa melawan karena saat itu usiaku hanya 5 tahun. Sejak
usiaku 3 tahun aku hanya hidup dengan Ibu dan aku sangat menyayanginya karena
usahanya menghidupiku.
Namun
semuanya berakhir saat Ibu menikah lagi dengan seorang lelaki brengsek yang
sangat aku benci. Awalnya memang rasa benci itu tidak tumbuh kepadanya namun
semakin lama sikapnya semakin membuatku muak. Kelakuannya tidak lebih dari
seekor serigala berbulu domba, ketika Ibu masih bersamaku dia memperhatikanku
dan menyayangiku namun ketika Ibu tiada pernah aku hampir ditamparnya.
Sejak
saat itu aku sangatt membencinya.
Pernah
hidupku sangat bahagia ketika seorang lelaki menyambutku dengan penuh cinta.
Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri untuk mencintai seseorang selain
diriku sendiri. Entah mengapa selama ini aku selalu bahagia ketika aku bisa
menyakiti hati seorang lelaki namun kali ini ku rasa berbeda karena hatiku
membuka dengan mudahnya. Dia datang dengan seribu cinta untukku, dia
mendengarkan ketika aku berbagi, dia menghibur ketika aku menangis, Yaa saat
itu dia segalanya bagiku. Hingga sebuah keegoisanku membuatnya pergi dariku dan
tak pernah kembali lagi.
Kini,
di 18 tahun usiaku aku tak ingin lagi merasakan cinta. Aku hanya ingin diriku
sendiri. Aku akan bahagia tanpa ada yang menggangguku. Aku akan bermain dengan
hidupku, dengan lingkaran kecil yang telah aku buat dihidupku. Dengan 3 elemen
indah yang ku yakin bisa membuatku senang. Aku tak ingin lagi dimiliki, aku
bahagia dengan kesendirianku ini. Aku tak ingin diganggu lagi. Aku akan hidup
dengan bola indah yang aku gulirkan untukku sendiri, yang aku mainkan sendiri.
Aku takkan lagi mencoba mengerti orang lain selain diriku. Aku akan buat dunia
impianku sendiri. Dunia yang penuh dendam, kebencian dan cinta, yaa cinta tapi
hanya untukku saja. Dunia yang akan membakar siapapun yang masuk kedalamnya.
Dunia yang penuh perhatian, penuh kasih sayang, penuh cinta namun akan penuh
kebencian dan dendam pada akhirnya. Its really me, this not compesition but
this me what in fact.:-) Maafkan aku.